ALARM GEMPA BUMI
Sewaktu makan siang kemarin, juma`t 3 Desember, saya dikejutkan berita gempa bumi yang kembali mengguncang Padang. Tidak terlalu besar, 4,2 scala richter, tapi cukup membuat panik warga. Terlihat di layar TV orang-orang berlarian menuju tempat yang aman dari gempa dan tsunami.
Saya memahami kepanikan itu karena saat itu saya sendiri belum genap satu bulan meninggalkan kota Padang. Selama lima bulan di sana, sedikitnya sudah merasakan lima kali guncangan gempa kecil. Termasuk gempa yang mengawali tsunami di Mentawai bulan Oktober lalu.
Sempat terpikir oleh saya, ketika masih tinggal di Padang, kenapa ya kok belum ada yang jual alarm gempa secara masal. Maksud saya, alarm gempa yang bisa dibeli oleh siapa pun sebagaimana Sate Padang yang bisa didapat di seluruh penjuru kota Padang dengan mudah dan murah. Saya hanya dengar bahwa alarm gempa dimiliki beberapa orang atau instansi tertentu saja. Apakah harganya terlalu mahal? Kalau pun mahal, tidakkah masih mampu dibeli secara gotong royong? misalkan satu RT/RW satu alarm gempa.
Sebab gempa bumi bisa datang kapan saja, termasuk saat kita sedang mandi, buang air, atau tidur nyenyak di malam hari. Apalagi kalau mengingat kota Padang yang dipinggir pantai dan dipagari perbukitan, terbayang sekali hempasan tsunami sudah bisa mengantarkan segera ketemu malaikat roqib dan atid. naudzubillah min syarri ma dzaalik….
Maka secara naluriah, biidznillah, saya ketika hendak tidur mempersiapkan sendiri alarm gempa sederhana seperti ini:
Dan selama lima bulan, belum pernah alarm gempa ini jatuh karena gempa. Paling-paling jatuh berantakan “traaaaang..tang…tang…” karena tersenggol kaki sewaktu tidur,..
Dan semoga dengan alat apapun dan di manapun saya tak pernah merasa aman dari maut, “karena kematian lebih dekat dari urat nadi kita”. lahaula wala quwwata illa billaaah….GBU Padang dan sekitarnya…,

Desember 9, 2010 pada 2:39 pm
Kreatif.
Februari 16, 2011 pada 10:57 am
ini kunjungan saya yg pertama. kunjungi blog saya juga di aisyahinsani.wordpress.com
slam kenal
Maret 20, 2012 pada 2:42 am
sampai gak bs ngomong aku tentang km om ucup…canggih