Pola Pikir, Tata Nilai, dan Kebutuhan

Pak Suryadi, dosen kuliah saya di UB dulu, mengungkapkan gagasannya tentang kepemimpinan, lebih tepatnya tentang bagaimana menjadi pemimpin yang efektif. Ide ini rencananya akan beliau tulis sebagai sebuah buku—entah jadi apa enggak.

Menurut beliau, pemimpin yang efektif hendaknya memahami tiga hal/variabel yang ada pada orang-orang yang dipimpinnya, yakni Pola Pikir, Tata Nilai, dan Kebutuhan. Seingat saya, beliau hanya menjelaskan secara singkat saja kenapa ketiga hal ini penting dipahami, tanpa disertai bagaimana ketiga hal ini dapat dioperasionalkan sebagai sebuah seni, aplikatif.

Menurut saya ide Pak Syur Sur ini menarik. Saya juga sependapat dengan beliau bahwa jurusan yang (dulu) sedang kami tempuh, Administrasi Negara/Publik miskin teori yang aplikatif, isinya hanya hal-hal normative, himbauan-himbauan, misalnya tentang Total Quality Management atau Reinventing Government—udah gitu berkebalikan dengan kenyataan Indonesia, jadi maleees banget ngambil jurusan ini.

Bahkan dua teori yang saya sebut tadi entah bisa dikatakan teori apa bukan, kalau pun iya apakah itu tidak berasal dari disiplin ilmu lain? Memangnya Adm. Public punya teori sendiri? Tidakkah lebih tepat Adm. Public disebut bukan sebagai disiplin ilmu tapi sebagai bidang kajian (field study)?—btw jangan ambil jurusan gak jelas identitas dan arahnya ini, dosenku aja beberapa diantaranya “gak percaya” jurusan ini.

 

Nah, sedangkan teori Pak Sur ini saya anggap aplikatif. Saya bersemangat untuk berpikir dan membahasnya. Bahkan sekarang sudah sampai pada beberapa tahap pemikiran penting :D

Pemikiran pertama, menambah variabel Konteks. Variabel Konteks ini merupakan dasar atau habitat ketiga variabel yang lain. Pola pikir, tata nilai, dan kebutuhan individu bisa berubah-ubah sesuai konteks, sesuai kondisi subyek (individu/kelompok) bersangkutan. Misalkan saat subyek bersangkutan marah, merasa terancam, saat-saat bahagia, mood nya lagi bagus apa enggak gitu. Jadi intinya, pola pikir, tata nilai dan kebutuhan itu kan bisa berubah-ubah sesuai keadaan subyek bersangkutan. Bagaimanakah konsistensi sinergi ketiga variabel yang dimiliki subyek? Ada berapa bentuk penampakan?

Tapi kemudian ada pertimbangan lain. Begini: tentu saja pola pikir berubah-ubah tapi itu kan sudah termasuk dalam variabel tata nilai dan kedua variabel lainnya? Bagaimana subyek berubah-ubah dan bertindak sudah merupakan integrasi ketiga variabel yang dimilikinya. Lagi pula teori made in Sur ini kan ngomongin keadaan subyek dalam kondisi (dinamis namun) relative permanent? Bukan yang temporer banget. Jadi…dipending aja pemikiran ini. Kapan-kapan aja dipikir lagi..

Pemikiran kedua, bagaimana mengoperasionalkan ketiga variabel yang masih umum ini. Variabel kebutuhan baru bisa saya dekati dengan Teori Tingkat Kebutuhan Maslow. Teori ini membuat perbedaan kebutuhan antara subyek yang satu atas yang lain berdasarkan kondisi mereka. Hirarki yang dibuat, mulai dari terbawah adalah Kebutuhan fisiologis, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dll; kebutuhan akan rasa aman; kebutuhan untuk dicintai; kebutuhan untuk dihargai. Mungkin teori Maslow ini masih perdebatan, tapi bisa dipertimbangkan.

Sedangkan pola pikir bisa ditelusuri misalkan apakah seseorang berpikir an mengambil kesimmpulan dengan pola positivis, post positivis, induktif-deduktif dan sebagainya (gak bisa buat contoh lagi :D ).

Untuk variabel Tata Nilai saya mengajukan beberapa konsep yang bisa menggambarkan tata nilai subyek, misalnya religius, demokratis, mistik, sekuler, humanis, rasial, hedonis; juga nilai-nilai semacam ini: suka warna ijo apa merah, suka pecel apa tempe penyet, coto makassar atau soto lamongan, warung padang atau remang-remang dan segala tetek bengek filsafat hidup, prinsip-prinsip, dan nilai-nillai yang dianutnya. Serta bagaimana subyek menyusun hirarki/struktur nilainya tersebut.

Agar bisa mengetahui tingkat kebutuhan, pola pikir yang gimana, dan nilai seperti apa yang dianut subyek dibutuhkan data-data dasar, dengan mengumpulkan gejala-gejala, perilaku, ucapan, dan tulisan, dari subyek bersangkutan. I spy your facebook!

Pemikiran ketiga, berencana menanyakan ke Pak Sur apakah ide ini jadi ditulis sebagai buku apa enggak, soalnya selang waktu yang lama dulu pernah saya tanyakan ternyata belum ditulis karena beliau sibuk mengejar gelar-doktornya. Rencana ini mungkin saya laksanakan, tapi belum jelas “kapannya”.

Pemikiran keempat, mungkin Sodara bisa membantu teori ini lebih aplikatif dan operasional…..?? Atau memberitahu referensi yang bagus untuk bidang ini,…?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.