Mukaddimah
Tidak ada kata “terlambat” untuk belajar.
Kata-kata klise. Keluar dari mulut baik seorang teman kenalan, perempuan, penuh semangat, ceria, sok angkuh khas gadis muda, namun sopan dan pemalu. Kulitnya bersih cerah, wajahnya berseri-seri. Meski saya pura-pura bersikap biasa waktu mendengar kata-kata klisenya itu, namun diam-diam gelombang suara kata-kata itu masuk menerangi jiwa, pencerahan. The Moment of truth. Rupanya Tuhan Semesta Alam (TSA) sedang mengirim “malaikat” kepada hambaNya yang pemalas.
Itu sudah lama sekali, tapi masih berlaku untuk hari ini. Masih mencerahkan, saat saya mulai belajar menulis lagi. Belajar ngeBlog.
Sejak di SLTA, pingin sekali saya punya kemampuan dasar ini: menulis. Ingin rasanya bisa menulis dengan gaya Tempo yang “enak di baca dan perlu”, gaya “Catatan Pinggir”nya GM yang dalam dan luas, atau gaya majalah sastra Horison yang sederhana dan mengalir, maupun gaya kreatif Roem Topatimasang di “Sekolah Itu Candu”. Ingin juga bisa menulis cerita seperti Putu Wijaya dan bisa menulis puisi seperti Chairil Anwar.
Maka saya tak bosan-bosan membaca majalah Tempo puluhan edisi lama yang sudah dibendel di perpustakaan pondok, majalah Horison edisi lama yang sudah dibendel di perpustakaan sekolah, dan juga “sekolah itu candu”– ini punya sendiri– yang sudah khatam baca beberapa kali sambil cengengesan. Namun keinginan mampu menulis itu hanya menjadi sebatas keinginan karena cuma dibarengi dengan agak banyak membaca, mempelajari teknik menulis, dan kurang latihan.
Sempat sedikit terdorong untuk latihan menulis saat saya jadi pimred, sekaligus pendiri, majalah sekolah. Juga saat mencoba membuat majalah dinding dan majalah organisasi santri asal Malang di pondok Tambakberas Jombang. Tapi sedikit sekali yang berhasil. Hasil latihan lainnya cuma terhenti sebagi naskah-naskah yang tak pernah rampung.
Lulus dari SLTA, pinginnya hasrat ini bisa saya lampiaskan di universitas, jadi wartawan kampus dan aktivis. Ternyata gagal. Pernah daftar di pers kampus sampai ikut diklatnya dan terhenti sampai di situ. Di pondok (saya sempat tinggal di ponpes waktu kuliah) pernah saya mencoba mengembangkannya lewat mading, tapi juga tak banyak kemajuan. Atas kegagalan ini saya jadi sangat iri pada mas Kramput yang sukses jadi seperti apa yang saya cita-citakan. Tapi,..
Tidak ada kata “terlambat” untuk belajar.
Dan hari ini, nyaris umur ke-27 dalam hitungan penanggalan matahari, secara diam-diam saya buka weblog ini. Silent Grand Opening. Kembali lagi belajar menulis, berlatih mengungkap isi hati, dan membiasakan berpikir sistematis. Mudah-mudahan istiqomah dalam proses, memberi hasil yang manfaat, dan tetap semangat belajar “seolah-olah engkau hidup seribu tahun lagi”.
Tidak ada kata “terlambat” untuk belajar. Saya selalu teringat kata-kata baik ini; dan “malaikat” yang telah menyampaikannya….
Desember 28, 2009 pada 1:32 am
he…he…yoi bro…..jangan berhenti belajar…..
Januari 10, 2010 pada 5:40 pm
Waduh, saya juga masih belajar cara jadi sukses kok Mas! Salam kenal yaaa.