ALARM GEMPA BUMI

Posted in Uncategorized on Desember 8, 2010 by iyusmaknyus

Sewaktu makan siang kemarin, juma`t 3 Desember, saya dikejutkan berita gempa bumi yang kembali mengguncang Padang. Tidak terlalu besar, 4,2 scala richter, tapi cukup membuat panik warga. Terlihat di layar TV orang-orang berlarian menuju tempat yang aman dari gempa dan tsunami.

Saya memahami kepanikan itu karena saat itu saya sendiri belum genap satu bulan meninggalkan kota Padang. Selama lima bulan di sana, sedikitnya sudah merasakan lima kali guncangan gempa kecil. Termasuk gempa yang mengawali tsunami di Mentawai bulan Oktober lalu.

Sempat terpikir oleh saya, ketika masih tinggal di Padang, kenapa ya kok belum ada yang jual alarm gempa secara masal. Maksud saya, alarm gempa yang bisa dibeli oleh siapa pun sebagaimana Sate Padang yang bisa didapat di seluruh penjuru kota Padang dengan mudah dan murah. Saya hanya dengar bahwa alarm gempa dimiliki beberapa orang atau instansi tertentu saja. Apakah harganya terlalu mahal? Kalau pun mahal, tidakkah masih mampu dibeli secara gotong royong? misalkan satu RT/RW satu alarm gempa.

Sebab gempa bumi bisa datang kapan saja, termasuk saat kita sedang mandi, buang air, atau tidur nyenyak di malam hari. Apalagi kalau mengingat kota Padang yang dipinggir pantai dan dipagari perbukitan, terbayang sekali hempasan tsunami sudah bisa mengantarkan segera ketemu malaikat roqib dan atid. naudzubillah min syarri ma dzaalik….

Maka secara naluriah, biidznillah, saya ketika hendak tidur mempersiapkan sendiri alarm gempa sederhana seperti ini:

(foto diperankan 100% anak kos, Uda Donnie)

Dan selama lima bulan, belum pernah alarm gempa ini jatuh karena gempa. Paling-paling jatuh berantakan “traaaaang..tang…tang…” karena tersenggol kaki sewaktu tidur,..
Dan semoga dengan alat apapun dan di manapun saya tak pernah merasa aman dari maut, “karena kematian lebih dekat dari urat nadi kita”. lahaula wala quwwata illa billaaah….GBU Padang dan sekitarnya…,

Pola Pikir, Tata Nilai, dan Kebutuhan

Posted in Uncategorized on Januari 20, 2010 by iyusmaknyus

Pak Suryadi, dosen kuliah saya di UB dulu, mengungkapkan gagasannya tentang kepemimpinan, lebih tepatnya tentang bagaimana menjadi pemimpin yang efektif. Ide ini rencananya akan beliau tulis sebagai sebuah buku—entah jadi apa enggak.

Menurut beliau, pemimpin yang efektif hendaknya memahami tiga hal/variabel yang ada pada orang-orang yang dipimpinnya, yakni Pola Pikir, Tata Nilai, dan Kebutuhan. Seingat saya, beliau hanya menjelaskan secara singkat saja kenapa ketiga hal ini penting dipahami, tanpa disertai bagaimana ketiga hal ini dapat dioperasionalkan sebagai sebuah seni, aplikatif.

Menurut saya ide Pak Syur Sur ini menarik. Saya juga sependapat dengan beliau bahwa jurusan yang (dulu) sedang kami tempuh, Administrasi Negara/Publik miskin teori yang aplikatif, isinya hanya hal-hal normative, himbauan-himbauan, misalnya tentang Total Quality Management atau Reinventing Government—udah gitu berkebalikan dengan kenyataan Indonesia, jadi maleees banget ngambil jurusan ini.

Bahkan dua teori yang saya sebut tadi entah bisa dikatakan teori apa bukan, kalau pun iya apakah itu tidak berasal dari disiplin ilmu lain? Memangnya Adm. Public punya teori sendiri? Tidakkah lebih tepat Adm. Public disebut bukan sebagai disiplin ilmu tapi sebagai bidang kajian (field study)?—btw jangan ambil jurusan gak jelas identitas dan arahnya ini, dosenku aja beberapa diantaranya “gak percaya” jurusan ini.

 

Nah, sedangkan teori Pak Sur ini saya anggap aplikatif. Saya bersemangat untuk berpikir dan membahasnya. Bahkan sekarang sudah sampai pada beberapa tahap pemikiran penting :D
selengkapnya

inna lillahi wa inna ilaihi rojiun

Posted in Uncategorized on Desember 30, 2009 by iyusmaknyus

Jutaan yang pro;
Jutaan yang kontra;
Mari mendoakannya: allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu… al faatihah;..

Kita sedang nunggu giliran juga lo,..
So, Gitu aja kok repot!.

Bambang

Posted in Uncategorized on Desember 27, 2009 by iyusmaknyus

Bambang menjamur. Bambang ada di mana-mana.

Mulai dari Bambang Gentolet pemain Srimulat, Bambang Pamungkas striker timnas, Bambang Sudibyo mantan mendiknas yang baru dilengserkan, Pak kapolri Bambang hendarso Danuri sampai sang primadona Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan sebagian besar dekan Univ. Indonesia juga bernama Bambang. Rektor saya dulu di UB Malang juga Bambang, lengkapnya Bambang Guritno. Waktu ribut-ribut “cicak vs buaya” kemarin juga muncul nama Bambang Widjojanto, kuasa hukum cicak KPK.

Sedangkan ini adalah Bambang yang istrinya selebriti; Bambang yang anak buahnya Bambang; Bambang dengan Naluri Lelaki; Bambang yang lagi naik daun karena kasus Bank Century…

Masih ada lagi, Bambang yang ini, ini, ini, ini,….dan di search engine google ada sekitar 6,400,000 hasil telusur untuk Bambang. (0.51 detik).

Dulu waktu masih SD, adik teman main saya juga Bambang. Dan kami waktu itu sering menggunakan Bambang untuk olok-olokan ‘Bambang gentolet klambi abang melet-melet” he e e . Gak terbayang jika itu diucapkan saat ini, saat ketua “partai merah” sedang berpidato dengan klambi abang (baju merah); atau ketika Bos Bambang jumpa pers kita nyanyikan: Bambang gentolet mas Bambang melet-melet… (mau coba..!?.

Dan saya baru tahu beberapa minggu lalu, sebelum menulis ini, bahwa Bambang berarti Satria. Well, ternyata nama bumbu dapur Brambang Bambang punya arti keren: Satria. Bahasa Inggrisnya: Knight. Tapi entah apa bedanya Satria sama Bambang? Jelas Bambang belum tentu seorang Satria, Satria tidak mesti Bambang. Apakah Bambang lebih kuno dari Satria secara ilmu bahasa?. Lalu kira-kira pantes gak ya kalo ada yang bernama Bambang Satria Gentolet misalnya, atau seperti merek motor Satria Bambang F125 cc atau misalnya, misalnya saja, bernama Bambang Satria Nyudonyowo…(hiii.. sereeem…

Bambang sudah menjamur. Bambang di mana-mana.

Tapi negara ini tidak sukses-sukses. Birokrasinya bodoh, korup, dan jahat. Masih jadi bintang korupsi di dunia, masih jadi negara miskiin dengan kekayaan alam melimpah. Meskipun ratusan atau ribuan Bambang memimpin negara ini masih juga kita nomor satu perusakan hutannya, banyak PENGANGGURAN seperti saya, dan anak-anak terlantar. Pembangunan kesehatan dan pendidikan kalah jauh bersaing dengan negara-negara lain, juga tim sepakbolanya yang kalah dan kalah dan kalah,..

Bukan saya menyalahkan Bambang Gentolet atau Bambang lainnya atas ketidakberesan negara ini. Bukankah yang lain juga harus tanggung jawab, misalnya si Budi atau mbak Sri, Pak Bowo atau mas Anggodo, dan kita semua…?

Malah mungkin kita butuh lebih banyak Bambang lagi dan tentu kita butuh lebih banyak Satria lagi — yang bernama Bambang atau bukan. Atau mungkin sudah waktunya butuh Bambang yang lain bukan Bambang “yang itu tuh.. yang selalu jaim dan pidatonya muter-muter ”…..

Pak SW

Posted in Uncategorized on Desember 26, 2009 by iyusmaknyus

Waktu baca tulisan ini saya jadi ingat Pak Sw, yang waktu itu dosen mata kuliah Hukum Administrasi Negara. Saya ikut mata kuliah ini di kelas angkatan yang  lebih muda, karena sudah tertinggal kelas angkatan sendiri. Hanya beberapa  mahasiswa saja yang saya kenali—dan mungkin gak ada yang kenal saya.

Sambil nunggu Pak Sw datang kami bergerombol di luar kelas. Saya ikut gerombolan yang agak jauh dari kelas, dekat tangga—dan sudah kepikiran menuruni tangga dan  pulang. Kenapa dosen harus ditunggu kalo telat dan kenapa mahasiswa harus “menutup pintu dari luar” jika telat?

Tiba-tiba Pak Sw muncul menaiki tangga, seperti biasa, bersama sebatang sigaret.  Sampai di ujung tangga dia langsung melangkah menuju kelas dengan cepat. Gerombolan kami mengikuti sedikit di belakang.

Sambil terus jalan beliau berkata:

“yang pakai sandal gak boleh masuk”

Aduh! Saya yang merasa sebagai satu-satunya tersangka langsung cepat-cepat menyahut:

“lho kenapa Pak?”

“ya itu kan sudah aturannya”

Saya lalu bersemangat membela diri bla bla bla….dan beberapa detik sampailah kami di depan kelas. Sambil nunggu pintu yang dijubeli teman-teman yang mau masuk kelas, sampailah saya pada alasan handal:

“…lha cewek-cewek aja Pakai kaos ketat yang kalau duduk kelihatan punggungnya,  boleh masuk Pak?”

Beliau tersenyum sejenak, menoleh pada saya, sambil terkekeh berkata:

yo iku rejeki”

“ heee ee “ saya ikut tertawa. Dan selamatlah. Saya langsung ikut masuk kelas begitu Pak Sw ini masuk.

Di pertemuan berikutnya, saya masih Pakai sandal di kelas Pak Sw. Tidak ada masalah, sampai ketika beliau menawarkan:

“Ada pertanyaan?”

Kelas keliahatan sepi, gak ada yang angkat tangan. Saya yang tertarik mata kuliah ini langsung angkat tangan. Eh, belum ngomong apa-apa beliau sudah memberi pengumuman:

“yang Pakai sandal tidak boleh bertanya”.

Nasib.

***

Dalam sebuah pertemuan kuliah juga, masih dengan Pak Sw ini juga, beliau pernah cerita tentang aturan larangan memakai sandal dan kaos oblong. Beliau cerita:

Saat di ruang kantornya, beliau didatangi seorang mahasiswi yang hendak konsultasi skripsi. Setelah sebelumnya antri, giliran mahasiswi masuk. Belum sempat duduk beliau bilang:

“Silahkan baca dulu pengumuman di depan pintu”.

Mahasiswi keluar membaca yang di depan pintu: PAKAI KAOS OBLONG DAN SANDAL JEPIT DILARANG MASUK.

Kemudian,

“jadi kaos ini saya copot Pak?” Kata mahasiswi kepada Pak Sw. Heee e, beliau hanya tertawa dan bilang:

“okelah. Satu-kosong”

Dan si cewek boleh berkonsultasi—tentu masih dengan memakai kaosnya.



Mukaddimah

Posted in Uncategorized on Desember 26, 2009 by iyusmaknyus

Tidak ada kata “terlambat” untuk belajar.

Kata-kata klise. Keluar dari mulut baik seorang teman kenalan, perempuan, penuh semangat, ceria, sok angkuh khas gadis muda, namun sopan dan pemalu. Kulitnya bersih cerah, wajahnya berseri-seri. Meski saya pura-pura bersikap biasa waktu mendengar kata-kata klisenya itu, namun diam-diam gelombang suara kata-kata itu masuk menerangi jiwa, pencerahan. The Moment of truth. Rupanya Tuhan Semesta Alam (TSA) sedang mengirim “malaikat”  kepada hambaNya yang pemalas.

Itu sudah lama sekali, tapi masih berlaku untuk hari ini. Masih mencerahkan, saat saya mulai belajar menulis lagi. Belajar ngeBlog.

Sejak di SLTA, pingin sekali saya punya kemampuan dasar ini: menulis. Ingin rasanya bisa menulis dengan gaya Tempo yang “enak di baca dan perlu”, gaya “Catatan Pinggir”nya GM yang dalam dan luas, atau gaya majalah sastra Horison yang sederhana dan mengalir, maupun gaya kreatif Roem Topatimasang di “Sekolah Itu Candu”. Ingin juga bisa menulis cerita seperti Putu Wijaya dan bisa menulis puisi seperti Chairil Anwar.

Maka saya tak bosan-bosan membaca majalah Tempo puluhan edisi lama yang sudah dibendel di perpustakaan pondok, majalah Horison edisi lama yang sudah dibendel di perpustakaan sekolah, dan juga “sekolah itu candu”– ini punya sendiri– yang sudah khatam baca beberapa kali sambil cengengesan. Namun keinginan mampu menulis itu hanya menjadi sebatas keinginan karena cuma dibarengi dengan agak banyak membaca, mempelajari teknik menulis, dan kurang latihan.

Sempat sedikit terdorong untuk latihan menulis saat saya jadi pimred, sekaligus pendiri, majalah sekolah. Juga saat mencoba membuat majalah dinding dan majalah organisasi santri asal Malang di pondok Tambakberas Jombang. Tapi sedikit sekali yang berhasil. Hasil latihan lainnya cuma terhenti sebagi naskah-naskah yang tak pernah rampung.

Lulus dari SLTA, pinginnya hasrat ini bisa saya lampiaskan di universitas, jadi wartawan kampus dan aktivis. Ternyata gagal. Pernah daftar di pers kampus sampai ikut diklatnya dan terhenti sampai di situ. Di pondok (saya sempat tinggal di ponpes waktu kuliah) pernah saya mencoba mengembangkannya lewat mading, tapi juga tak banyak kemajuan. Atas kegagalan ini saya jadi sangat iri pada mas Kramput yang sukses jadi seperti apa yang saya cita-citakan. Tapi,..

Tidak ada kata “terlambat” untuk belajar.

Dan hari ini, nyaris umur ke-27 dalam hitungan penanggalan matahari, secara diam-diam saya buka weblog ini. Silent Grand Opening. Kembali lagi belajar menulis, berlatih mengungkap isi hati, dan membiasakan berpikir sistematis. Mudah-mudahan istiqomah dalam proses, memberi hasil yang manfaat, dan tetap semangat belajar “seolah-olah engkau hidup seribu tahun lagi”.

Tidak ada kata “terlambat” untuk belajar. Saya selalu teringat kata-kata baik ini; dan “malaikat”  yang telah menyampaikannya….

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.